Visi Madrasah
Rabu, 21 Jan 2026
  • Membetuk Generasi yang memiliki karakter Spiritual (Agamis), Mandiri & berprestasi, Adaptif terhadap teknologi, Ramah anak, dan Tanggap terhadap lingkungan.
  • Membetuk Generasi yang memiliki karakter Spiritual (Agamis), Mandiri & berprestasi, Adaptif terhadap teknologi, Ramah anak, dan Tanggap terhadap lingkungan.
5 Maret 2025

Tiket Emas yang Tak Selalu Kembali

Rab, 5 Maret 2025 Dibaca 420x

By Baqir Mujaddid Tafkiril Wahyi Kartum, S.Pd

Ramadan itu seperti tiket emas yang cuma datang setahun sekali. Pertanyaannya: mau jadi pemenang atau penyesal? Setiap tahun, banyak yang masuk Ramadan dengan semangat, tapi keluar tanpa perubahan. Padahaal, Rasulullah dan para sahabat menganggap Ramadan ini ladang pahala yang nggak ada tandingannya. Kenapa kita sering menyia-nyiakannya?

1. Sibuk dengan Dunia, Lupa dengan Akhirat

Ramadan datang, pasar ramai, diskon bertebaran. Yang lebih sibuk dari masjid justru dapur dan mall. Rasulullah berbuka dengan kurma dan air, kita sibuk debat menu berbuka. Padahal, pahala nggak berkurang meskipun cuma minum air putih.

“Siapa yang rugi?” Kita sendiri. Kalau makanan berbuka kita sederhana, kita bisa lebih fokus ke ibadah. Bukankah Ramadan adalah bulan menahan hawa nafsu, bukan menumpuk nafsu makan?

2. Gadget: Perampok Waktu Nomor Satu

“Cuma buka media sosial sebentar…” Eh, tahu-tahu sejam lewat. Cari resep buka, malah nyasar ke video lucu. Niatnya mau dengerin kajian, tiba-tiba lanjut nonton drakor. Ramadan ini gadget lebih sering di tangan atau mushaf?

Kalau ada aplikasi yang bisa ngecek berapa lama kita main HP dibanding baca Quran, berani lihat hasilnya?

3. Malam Ramadan: Tarawih atau Rebahan?

Malam Ramadan itu berlian. Tarawih, qiyamul lail, doa mustajab. Tapi banyak yang lebih memilih kasur daripada tahajud. Kalau tahu Ramadan ini yang terakhir, masih mau rebahan?

Lucunya, kalau flash sale jam 12 malam kita rela begadang. Tapi kalau tahajud, mata berat seberat dosa. Masalahnya bukan di kantuk, tapi di niat.

4. Sibuk yang Tidak Berbuah Pahala

Ramadan itu bukan cuma menahan lapar dan haus, tapi juga menahan lisan, jari, dan hati dari keburukan. Sibuk kerja boleh, tapi kalau sibuk debat politik di grup, sibuk belanja lebaran, sibuk nyinyirin orang lain? Hati-hati. Ramadan bukan sekadar puasa perut, tapi juga puasa dari hal sia-sia.

Ramadan ini, bisakah kita puasa dari gibah, nyinyir, dan debat nggak penting? Kalau bisa, itu baru level Ramadan pro.

5. Menghargai Waktu, Menghargai Ramadan

Bayangkan kalau Ramadan ini yang terakhir buat kita. Mau tetap buang waktu atau mulai serius? Ramadan bukan soal seberapa sering kita berbuka dengan makanan lezat, tapi seberapa sering kita berbuka dengan doa yang tulus. Bukan soal baju baru, tapi soal dosa yang berkurang.

Jangan sampai baru sadar berharganya Ramadan saat ia sudah pergi. Seperti orang kehilangan sinyal pas butuh banget: “Aduh, kenapa pas penting malah hilang?”

Ramadan Cahaya yang Harus Dijaga ia bagaikan tamu Ia hanya datang sebentar, lalu pergi. Meninggalkan bekas atau sekadar lewat, itu tergantung kita. Ramadan adalah cermin. Kita bisa memilih melihat wajah kita yang sesungguhnya, atau tetap berpaling dan membiarkannya berdeabu.

Jadi, Ramadan Ini Mau Jadi Pemenang atau Penyesal?

Kalau sudah tahu jawabannya, waktunya bergerak. Sebelum Ramadan benar-benar pergi, sebelum kita menyesal di ujung hari.

The Golden Ticket That Doesn’t Always Come Back

By Baqir Mujaddid Tafkiril Wahyi Kartum, S.Pd

Ramadan is like a golden ticket that only comes once a year. The question is: do you want to be a winner or a regretter? Every year, many enter Ramadan with enthusiasm, but leave unchanged. In fact, the Prophet and his companions considered Ramadan a field of unmatched rewards. Why do we often waste it?

  1. Busy with the World, Forgetting the Hereafter
    Ramadan comes, the market is crowded, discounts are plentiful. What is busier than the mosque is the kitchen and the mall. The Prophet broke his fast with dates and water, we are busy debating the menu for breaking the fast. In fact, the reward does not decrease even if we only drink water.
    “Who loses?” We ourselves. If our breaking the fast food is simple, we can focus more on worship. Isn’t Ramadan a month of restraining lust, not accumulating appetite?
  2. Gadgets: The Number One Time Robber
    “Just opening social media for a moment…” Eh, suddenly an hour has passed. Looking for a recipe for breaking the fast, I end up on a funny video. The intention was to listen to a religious study, suddenly I continued watching Korean dramas. This Ramadan, are gadgets more often in hand or mushaf?
    If there is an application that can check how long we play with our cellphones compared to reading the Quran, dare to see the results?
  3. Ramadan Nights: Tarawih or Lying Down?
    Ramadan nights are diamonds. Tarawih, qiyamul lail, answered prayers. But many people prefer the bed to tahajud. If they knew this was the last Ramadan, would they still want to lie down?
    The funny thing is, if the flash sale is at 12 midnight, we are willing to stay up late. But if tahajud, the eyes are heavy as heavy as sin. The problem is not in sleepiness, but in intention.
  4. Busyness that does not bear fruit
    Ramadan is not only about holding back hunger and thirst, but also holding back the tongue, fingers, and heart from bad things. Being busy with work is okay, but if you are busy debating politics in groups, busy shopping for Eid, busy gossiping about others? Be careful. Ramadan is not just about fasting the stomach, but also fasting from useless things.
    This Ramadan, can we fast from gossiping, gossiping, and unimportant debates? If possible, that’s the level of Ramadan pro.
  5. Appreciating Time, Appreciating Ramadan
    Imagine if this Ramadan is our last. Do you want to keep wasting time or start getting serious? Ramadan is not about how often we break our fast with delicious food, but how often we break our fast with sincere prayers. It’s not about new clothes, but about sins being reduced.
    Don’t just realize the value of Ramadan when it’s gone. Like someone who loses a signal when they really need it: “Oh, why does it disappear when it’s important?”
    Ramadan is a Light that Must be Maintained, it’s like a guest. It only comes for a moment, then goes. Leaving a mark or just passing by, it’s up to us. Ramadan is a mirror. We can choose to see our true face, or keep turning away and letting it gather dust.
    So, Will This Ramadan Be a Winner or a Regret?
    If you already know the answer, it’s time to move. Before Ramadan really leaves, before we regret it at the end of the day.
Artikel ini memiliki

3 Komentar

Hatur nuhun pa, semoga bermanfaat bagi kita semua, sehingga kita bisa memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan bekal NNT pulang.

Tinggalkan Komentar

Flag Counter