By Baqir Mujaddid Tafkiril Wahyi Kartum, S.Pd
Ramadan itu seperti tiket emas yang cuma datang setahun sekali. Pertanyaannya: mau jadi pemenang atau penyesal? Setiap tahun, banyak yang masuk Ramadan dengan semangat, tapi keluar tanpa perubahan. Padahaal, Rasulullah dan para sahabat menganggap Ramadan ini ladang pahala yang nggak ada tandingannya. Kenapa kita sering menyia-nyiakannya?
1. Sibuk dengan Dunia, Lupa dengan Akhirat
Ramadan datang, pasar ramai, diskon bertebaran. Yang lebih sibuk dari masjid justru dapur dan mall. Rasulullah berbuka dengan kurma dan air, kita sibuk debat menu berbuka. Padahal, pahala nggak berkurang meskipun cuma minum air putih.
“Siapa yang rugi?” Kita sendiri. Kalau makanan berbuka kita sederhana, kita bisa lebih fokus ke ibadah. Bukankah Ramadan adalah bulan menahan hawa nafsu, bukan menumpuk nafsu makan?
2. Gadget: Perampok Waktu Nomor Satu
“Cuma buka media sosial sebentar…” Eh, tahu-tahu sejam lewat. Cari resep buka, malah nyasar ke video lucu. Niatnya mau dengerin kajian, tiba-tiba lanjut nonton drakor. Ramadan ini gadget lebih sering di tangan atau mushaf?
Kalau ada aplikasi yang bisa ngecek berapa lama kita main HP dibanding baca Quran, berani lihat hasilnya?
3. Malam Ramadan: Tarawih atau Rebahan?
Malam Ramadan itu berlian. Tarawih, qiyamul lail, doa mustajab. Tapi banyak yang lebih memilih kasur daripada tahajud. Kalau tahu Ramadan ini yang terakhir, masih mau rebahan?
Lucunya, kalau flash sale jam 12 malam kita rela begadang. Tapi kalau tahajud, mata berat seberat dosa. Masalahnya bukan di kantuk, tapi di niat.
4. Sibuk yang Tidak Berbuah Pahala
Ramadan itu bukan cuma menahan lapar dan haus, tapi juga menahan lisan, jari, dan hati dari keburukan. Sibuk kerja boleh, tapi kalau sibuk debat politik di grup, sibuk belanja lebaran, sibuk nyinyirin orang lain? Hati-hati. Ramadan bukan sekadar puasa perut, tapi juga puasa dari hal sia-sia.
Ramadan ini, bisakah kita puasa dari gibah, nyinyir, dan debat nggak penting? Kalau bisa, itu baru level Ramadan pro.
5. Menghargai Waktu, Menghargai Ramadan
Bayangkan kalau Ramadan ini yang terakhir buat kita. Mau tetap buang waktu atau mulai serius? Ramadan bukan soal seberapa sering kita berbuka dengan makanan lezat, tapi seberapa sering kita berbuka dengan doa yang tulus. Bukan soal baju baru, tapi soal dosa yang berkurang.
Jangan sampai baru sadar berharganya Ramadan saat ia sudah pergi. Seperti orang kehilangan sinyal pas butuh banget: “Aduh, kenapa pas penting malah hilang?”
Ramadan Cahaya yang Harus Dijaga ia bagaikan tamu Ia hanya datang sebentar, lalu pergi. Meninggalkan bekas atau sekadar lewat, itu tergantung kita. Ramadan adalah cermin. Kita bisa memilih melihat wajah kita yang sesungguhnya, atau tetap berpaling dan membiarkannya berdeabu.
Jadi, Ramadan Ini Mau Jadi Pemenang atau Penyesal?
Kalau sudah tahu jawabannya, waktunya bergerak. Sebelum Ramadan benar-benar pergi, sebelum kita menyesal di ujung hari.
By Baqir Mujaddid Tafkiril Wahyi Kartum, S.Pd
Ramadan is like a golden ticket that only comes once a year. The question is: do you want to be a winner or a regretter? Every year, many enter Ramadan with enthusiasm, but leave unchanged. In fact, the Prophet and his companions considered Ramadan a field of unmatched rewards. Why do we often waste it?
luar biasa
Mantapp
Hatur nuhun pa, semoga bermanfaat bagi kita semua, sehingga kita bisa memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan bekal NNT pulang.
Tinggalkan Komentar