By Baqir Mujaddid Tafkiril Wahyi Kartum, S.Pd.
Pernahkah Kau Dengar Jeritanku?
Aku selalu setia menemanimu, sejak pagi buta hingga senja yang mulai redup. Aku yang kau angkat tergesa-gesa saat kesiangan, aku yang kau lempar sembarangan saat pulang. Aku juga yang kau isi tanpa belas kasih, seakan pundakmu sekuat baja.
Tak apa, aku sudah terbiasa. Tapi pernahkah kau dengar jeritanku?
Aku mengerti bahwa hidupmu berat, tapi mengapa kau ingin membuktikan itu dengan membuatku lebih berat? Matematika, IPA, IPS, semuanya kau jejalkan bersamaku. Belum lagi novel yang kau selipkan, surat yang tak pernah terkirim, serta bungkusan roti yang kau lupakan hingga semut menganggapku rumahnya.
Aku hanya tas. Tapi aku tahu lebih banyak tentangmu daripada yang kau kira.
Resleting yang Macet, Seperti Perasaan yang Kau Kunci
Kau sering mengeluh, resletingku seret. Tapi bukankah itu seperti hatimu? Kau tutup rapat-rapat semua yang mengganggumu, berharap semuanya hilang sendiri. Padahal, semakin kau paksa tertutup, semakin sulit untuk dibuka. Seperti nilai ulangan yang kau sembunyikan, impian yang kau pendam, atau keluh kesah yang tak kau utarakan.
Kau tahu apa yang kupelajari dari semua ini? Bahwa hidup tak selalu tentang menutup, tapi juga tentang berani membuka. Karena terkadang, kelegaan hanya datang saat kita berani menghadapi apa yang selama ini kita hindari.
Tali yang Nyaris Putus, Seperti Kekuatan yang Kau Paksakan
Aku melihatmu berjalan membungkuk, pundakmu seakan menahan beban dunia. Aku tahu kau lelah. Tapi kau tetap bertahan, meski rasanya ingin menyerah. Aku mengerti, sungguh.
Tapi tahukah kau? Tali tasku juga hampir putus. Sama seperti kesabaranmu, seperti kekuatan yang kau paksakan. Aku khawatir, bukan karena aku akan rusak, tapi karena aku takut kau pun begitu.
Lalu jika aku putus, apakah kau akan memperbaiki? Atau membuang dan menggantiku dengan yang baru? Sebab, aku tahu, manusia sering memperlakukan diri sendiri seperti itu. Ketika lelah, bukannya istirahat, tapi justru dipaksa terus berlari.
Mungkin saatnya kau bertanya: apakah beban ini memang harus kau bawa, atau hanya kau paksakan sendiri?
Aku Ingin Kau Melepas Beban yang Tak Perlu
Aku tidak keberatan menjadi saksi perjuanganmu. Setiap goresan di kulitku, setiap lipatan kertas di dalamku, adalah bukti bahwa kau telah berusaha. Tapi satu hal yang ingin kusampaikan padamu:
Kau tak harus membawa semuanya.
Buka tasku, lihat isinya. Ada hal-hal yang bisa kau keluarkan. Mungkin bukan hanya buku atau botol minum, tapi juga kegelisahan yang tak perlu, ketakutan yang berlebihan, atau ekspektasi yang selama ini membebanimu.
Sebagian beban ada untuk dibawa, sebagian lagi ada untuk dilepaskan. Dan tugasmu adalah mengetahui mana yang harus disimpan, mana yang harus dikeluarkan.
Sebab, terlalu banyak membawa hal yang tak perlu hanya akan membuatmu cepat lelah, cepat putus asa. Hidup bukan sekadar menahan beban, tapi juga belajar bagaimana melepaskan. Dan mungkin, di antara buku-buku yang kau bawa, ada satu pelajaran paling berharga yang bisa kau petik dari aku: beban yang tak perlu hanya membuat langkahmu melambat.
Akhir Kata dari Sang Tas
Aku tak butuh penghargaan, aku tak minta terima kasih. Aku hanya ingin satu hal: besok, ketika kau bersiap ke sekolah, angkat aku dan tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang bisa kulepaskan hari ini?
Sebab perjalanan bukan soal seberapa banyak yang kita bawa, tapi seberapa ringan kita melangkah.
Maka belajarlah mengurangi beban. Tidak hanya di pundakmu, tapi juga dalam hatimu.
Salam,
Tasmu yang setia.
Have You Heard My Screams?
I have always been faithful to accompany you, from the early morning until the dim dusk. I am the one you hastily pick up when you oversleep, I am the one you carelessly throw away when you come home. I am also the one you fill without mercy, as if your shoulders were as strong as steel.
It’s okay, I’m used to it. But have you ever heard my screams?
I understand that your life is hard, but why do you want to prove it by making it harder? Mathematics, science, social studies, you cram them all together with me. Not to mention the novels you slipped in, the letters that were never sent, and the bread packages you forgot until the ants considered me their home.
I’m just a bag. But I know more about you than you think.
A Stuck Zipper, Like the Feelings You Lock
You often complain, my zipper is stuck. But isn’t that like your heart? You tightly close everything that bothers you, hoping it will all go away on its own. In fact, the more you force it closed, the harder it is to open. Like the test scores you hide, the dreams you keep to yourself, or the complaints you don’t express.
Do you know what I learned from all this? That life is not always about closing, but also about daring to open. Because sometimes, relief only comes when we dare to face what we have been avoiding.
The Rope That Almost Broke, Like the Strength You Forced
I saw you walking hunched over, your shoulders as if holding the weight of the world. I know you’re tired. But you persist, even though you feel like giving up. I understand, really.
But did you know? The strap of my bag is almost broken too. Just like your patience, like the strength you forced. I’m worried, not because I’ll break, but because I’m afraid you will too.
Then if I break, will you fix me? Or throw me away and replace me with a new one? Because, I know, humans often treat themselves like that. When tired, instead of resting, they are forced to keep running.
Maybe it’s time for you to ask: do you really have to carry this burden, or are you just forcing yourself?
I Want You to Let Go of Unnecessary Burdens
I don’t mind being a witness to your struggle. Every scratch on my skin, every fold of paper inside me, is proof that you have tried. But one thing I want to tell you:
You don’t have to carry everything.
Open my bag, see what’s inside. There are things you can take out. Maybe not just books or water bottles, but also unnecessary anxieties, excessive fears, or expectations that have been burdening you.
Some burdens are there to be carried, some are there to be released. And your job is to know which ones to keep, which ones to release.
Because, carrying too many unnecessary things will only make you tired quickly, quickly give up. Life is not just about holding burdens, but also learning how to let go. And maybe, among the books you carry, there is one most valuable lesson you can learn from me: unnecessary burdens only slow down your steps.
The Final Words from the Bag
I don’t need an award, I don’t ask for thanks. I only want one thing: tomorrow, when you get ready for school, pick me up and ask yourself, what can I let go of today?
Because the journey is not about how much we carry, but how light we walk.
So learn to reduce the burden. Not only on your shoulders, but also in your heart.
Greetings,
Your faithful bag.
luar biasa
Wih… Mantap
Apakah untuk mengurangi beban di pundak kita mesti harus menurunkan tas di punggung?
Sebenarnya ini hanya kiasan metaforis penggambaran tas sebagai simbol beban hidup,emosi dan tekanan psikologis. Tapi saya sangt setuju dengan pak haji salah satu cara mengurangi beban fisik pundak adalah menurunkan berat tas agar tak mudah lelah๐
Tinggalkan Komentar