Visi Madrasah
Selasa, 20 Jan 2026
  • Membetuk Generasi yang memiliki karakter Spiritual (Agamis), Mandiri & berprestasi, Adaptif terhadap teknologi, Ramah anak, dan Tanggap terhadap lingkungan.
  • Membetuk Generasi yang memiliki karakter Spiritual (Agamis), Mandiri & berprestasi, Adaptif terhadap teknologi, Ramah anak, dan Tanggap terhadap lingkungan.
27 Februari 2025

Sholat, tapi Pikiran melayang ke mana-mana

Kam, 27 Februari 2025 Dibaca 652x

By Ust Yadi

Pada suatu hari, di dalam majelis Rasulullah ﷺ, seorang sahabat duduk dengan wajah penuh kegelisahan. Matanya menunduk, jemarinya saling menggenggam, seolah ada sesuatu yang berat di hatinya. Ia menghela napas, lalu dengan suara lirih, ia berkata,

“Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya… tetapi aku khawatir, mungkin pertanyaanku ini akan membuatku semakin malu di hadapan Allah.”

Rasulullah ﷺ tersenyum lembut, tatapan beliau penuh kasih sayang. “Katakanlah, wahai saudaraku. Tidak ada pertanyaan yang membuat seseorang hina jika ia bertanya untuk mencari kebaikan.”

Sahabat itu mengangkat wajahnya perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. “Wahai Rasulullah, aku merasa shalatku sering tidak khusyuk. Kadang aku mengingat urusan dunia, kadang pikiranku melayang entah ke mana. Aku takut shalatku tidak diterima oleh Allah… apakah dengan shalat seperti itu, aku tetap mendapatkan pahala?”

Sekejap, suasana menjadi hening. Para sahabat yang lain menunduk, merasakan kegundahan yang sama. Mereka tahu betapa beratnya pertanyaan itu.

Namun, yang terjadi setelahnya benar-benar tak terduga. Rasulullah ﷺ tidak segera menjawab. Beliau menatap sahabat itu dalam-dalam, lalu air mata mulai membasahi pipi beliau. Para sahabat terkejut – mereka jarang melihat Rasulullah menangis dalam keadaan seperti ini.

Dengan suara bergetar, Rasulullah ﷺ berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh setan tidak akan pernah berhenti berusaha mencuri bagian dari shalat seorang hamba, hingga ia teralihkan. Tetapi ketahuilah… Allah tetap melihat usahamu.”

Beliau menarik napas dalam, lalu melanjutkan, “Wahai saudaraku, jika engkau meninggalkan shalat hanya karena takut tidak khusyuk, maka setan akan menang. Tetapi jika engkau tetap berusaha shalat meski dengan kehadiran pikiran yang mengganggu, ketahuilah… setiap kali engkau berusaha kembali kepada Allah dalam shalatmu, saat itulah Allah menyambutmu.”
Air mata sahabat itu jatuh. Ia menangis, begitu pula para sahabat lainnya.

Kemudian Rasulullah ﷺ berkata dengan penuh kelembutan, “Bayangkan seorang ibu yang melihat anaknya berjalan ke arahnya, tetapi anak itu sering jatuh dan tersandung. Apakah sang ibu akan marah? Tidak! ia justru akan berlari menghampirinya, mengangkatnya, dan mendekapnya erat. Sedangkan Allah… Ia lebih penyayang dari seorang ibu kepada anaknya. Selama engkau terus kembali, Allah akan selalu menerimamu.”
Sahabat itu menangis terisak. Begitu pun para sahabat lainnya. Selama kita berusaha ke jalanNya yang lurus, Allah selalu menerima hambaNya. Betapa Maha Pengasihnya Allah, betapa luas rahmat-Nya.

Dari hari itu, sahabat itu tidak lagi putus asa dalam shalatnya. Ia tetap berusaha, dan setiap kali pikirannya melayang, ia mengingat kata-kata Rasulullah ﷺ :

“Setiap kali engkau berusaha kembali, saat itulah Allah menyambutmu..”

Sesuai Permintaan ini Translate dari Googlenya

Prays, but thoughts wander all over the place

One day, in the assembly of the Prophet ﷺ, a friend sat with a face full of anxiety. His eyes were lowered, his fingers were clasped together, as if there was something heavy in his heart. He took a deep breath, then in a low voice, he said,

“O Messenger of Allah, I want to ask… but I’m worried, maybe my question will make me even more embarrassed before Allah.”

Rasulullah ﷺ smiled gently, his gaze was full of affection. “Say, O my brother. There is no question that makes a person humiliated if he asks it to seek goodness.”

The friend raised his face slowly, his eyes starting to fill with tears. “O Messenger of Allah, I feel that my prayers are often not solemn. Sometimes I remember world affairs, sometimes my mind wanders elsewhere. I’m afraid that my prayers won’t be accepted by Allah… will I still get a reward by praying like that?”

For an instant, the atmosphere became silent. The other friends looked down, feeling the same anxiety. They know how difficult the question is.

However, what happened after was completely unexpected. Rasulullah ﷺ did not immediately answer. He looked at his friend deeply, then tears began to roll down his cheeks. The companions were shocked – they had rarely seen the Messenger of Allah cry in such circumstances.

In a trembling voice, Rasulullah ﷺ said, “By the One in Whose Hands my soul is, Satan will never stop trying to steal part of a servant’s prayer, until he is distracted. But know… Allah still sees your efforts.”

He took a deep breath, then continued, “O my brother, if you abandon prayer just because you are afraid of not being solemn, then Satan will win. But if you keep trying to pray even with the presence of disturbing thoughts, know… every time you try to return to Allah in your prayer, that’s when Allah welcomes you.”
The friend’s tears fell. He cried, and so did the other friends.

Then Rasulullah ﷺ said with great tenderness, _”Imagine a mother who sees her child walking towards her, but the child often falls and stumbles. Will the mother be angry? No! She will actually run to him, pick him up, and hug him tightly. Meanwhile, Allah… He is more merciful than a mother to her child. As long as you keep coming back, Allah will always accept you.”

The friend sobbed. Likewise other friends. As long as we strive to follow His straight path, Allah always accepts His servants. How merciful is Allah, how vast is His mercy.

From that day on, the friend no longer gave up on his prayers. He kept trying, and every time his mind wandered, he remembered the words of the Prophet ﷺ:

_“Every time you try to come back, that’s when Allah welcomes you.”

Artikel ini memiliki

3 Komentar

Tinggalkan Komentar

Flag Counter