Visi Madrasah
Selasa, 20 Jan 2026
  • Membetuk Generasi yang memiliki karakter Spiritual (Agamis), Mandiri & berprestasi, Adaptif terhadap teknologi, Ramah anak, dan Tanggap terhadap lingkungan.
  • Membetuk Generasi yang memiliki karakter Spiritual (Agamis), Mandiri & berprestasi, Adaptif terhadap teknologi, Ramah anak, dan Tanggap terhadap lingkungan.
26 Maret 2025

5 Karakter Orang Bertaqwa dan Keutamaannya

Rab, 26 Maret 2025 Dibaca 682x

By Mamat Rahmat, Lc

Apa itu taqwa? Para ulama biasa mendefinisikan singkat tetapi lengkap. Taqwa adalah mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan karakter orang bertaqwa dalam banyak ayat Al-Qur’an. Di antaranya dalam Surat Ali Imran ayat 133-135. Rangkaian ayat ini menjelaskan lima karakter orang bertaqwa. Kita bisa bermuhasabah apakah lima karakter ini ada dalam diri kita, sekaligus menjadi alat ukur keberhasilan puasa Ramadhan kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 133-135)

1. Gemar berinfaq

Karakter pertama orang bertaqwa adalah gemar berinfaq baik dalam kondisi lapang maupun sempit.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit … (QS. Ali Imran: 134)

Bulan Ramadhan yang memiliki nama lain syahrul infaq telah melatih kita untuk banyak berinfaq. Rasulullah juga mencontohkan, beliau yang sangat dermawan menjadi jauh lebih dermawan pada bulan Ramadhan.

Infaq dan sedekah yang telah terlatih di bulan Ramadhan itu, hendaknya menjadi karakter kita karena itulah karakter orang bertaqwa; berinfaq baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Berinfaq baik dalam keadaan kaya atau miskin. Berinfaq baik di tanggal muda maupun tanggal tua. Tentu besarannya disesuaikan dengan kemampuan.

Para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum telah mencontohkan gemar berinfaq dalam segala kondisi. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumumkan Perang Tabuk, dan waktu itu kondisinya paceklik, para sahabat berbondong-bondong untuk berinfaq.

Umar Al Faruq radhiyallahu ‘anhu datang membawa harta yang banyak. Beliau menginfakkan harta itu untuk jihad fi sabilillah yakni Perang Tabuk. Ketika ditanya Rasulullah, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Umar menjawab, “Aku menginfakkan separuh hartaku dan untuk keluargaku masih ada separuh hartaku.”

Setelah itu datang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliau menginfakkan harta yang lebih banyak daripada infaq Umar. “Ya Rasulullah, aku infakkan seluruh hartaku.” Ketika ditanya Rasulullah, apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka, Allah dan Rasul-Nya.”

Umar yang awalnya ingin mengungguli amal Abu Bakar, saat itu tersadar, “Aku tidak pernah bisa mengungguli Abu Bakar.”

Selain Abu Bakar dan Umar, para sahabat lainnya juga berbondong-bondong untuk berinfaq. Ada pula sahabat yang karena keterbatasan ekonomi, hanya berinfaq segenggam kurma.

Orang-orang munafik mengejek, “Allah tidak membutuhkan infaq yang sangat sedikit seperti itu.” Namun, Rasulullah justru memuji sahabat yang infaq meskipun segenggam kurma karena kemampuannya memang hanya sebesar itu.

Dan tidak ada ceritanya Umar jatuh miskin setelah menginfakkan separuh hartanya. Juga tidak ada ceritanya Abu Bakar jatuh bangkrut setelah menginfakkan seluruh hartanya. Yang ada, justru kekayaan mereka di kemudian hari bertambah dan semakin berkah. Persis seperti sabda Nabi:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah tidak mengurangi harta. (HR. Muslim)

Maka, mari kita miliki karakter orang bertaqwa ini. Jangan menunggu kaya baru sedekah, sedekahlah! Insya Allah, Allah akan menjadikan kita kaya.

2. Menahan marah

Karakter orang bertaqwa yang kedua adalah menahan marah, mampu mengelola emosi.

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

… dan orang-orang yang menahan amarahnya … (QS. Ali Imran: 134)

Puasa Ramadhan telah mendidik kita untuk mampu mengelola emosi dengan baik. Puasa Ramadhan telah mendidik kita untuk bersabar, menahan diri, dan tidak mudah marah. Bahkan, sekalipun ada orang-orang yang memprovokasi atau mengajak kita berkelahi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ

Puasa adalah perisai, maka barang siapa sedang berpuasa janganlah berkata keji dan mengumpat. Jika seseorang mencela atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan: aku sedang berpuasa. (Muttafaq ’alaih)

Marah sering kali membuat orang hilang akal sehat, kata-kata tidak terkontrol, keputusan tidak bijak dan emosi tak terkendali. Puasa Ramadhan telah melatih kita untuk bisa menahan marah dan hendaknya itu terus menjadi karakter kita.

Secara medis, banyak penyakit yang muncul akibat dipicu oleh kemarahan. Mulai dari darah tinggi, kolestreol, hingga diabet. Sebab marah memicu hormon kortisol.

Rasulullah menyebutkan bahwa orang-orang yang mampu mengelola emosinya, mampu menahan marah, itulah orang-orang yang sejatinya benar-benar kuat.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang yang kuat bukanlah orang (menang dalam) gulat, tetapi orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah. (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Memafkan manusia

Karakter orang bertaqwa yang ketiga adalah adalah suka memaafkan.

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

… dan memaafkan manusia … (QS. Ali Imran: 134)

Tak hanya mampu menahan marah, orang bertaqwa juga pandai memaafkan kesalahan orang lain. Dan memaafkan tidak akan menurunkan harga diri seseorang, ia justru menambah kemuliaan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. (HR. Muslim)

Memaafkan juga membuat hati lapang, penuh kedamaian dan mudah bahagia. Sebaliknya, tidak memaafkan alias mendendam akan memicu hormon kortisol yang mengakibatkan berbagai penyakit termasuk jantung, kanker dan stroke.

4. Suka berbuat baik

Karakter keempat dari orang bertaqwa adalah suka berbuat baik; ia menjadi muhsinin.

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (QS. Ali Imran: 134)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan dalam Tafsir Al Munir bahwa muhsinin adalah orang yang membalas kejelekan dengan kebaikan.

Orang mencela kita, kita tidak marah, justru memaafkannya dan menyambung silaturahmi  dengannya. Ini adalah contoh muhsinin. Ada orang menyakiti kita, kita justru memaafkan dan menolongnya saat membutuhkan, juga contoh muhsinin.

Ramadhan telah mendidik kita untuk berbuat baik kepada siapa pun. Dan sudah seharusnya karakter itu kita teruskan sepanjang tahun karena itulah karakter orang bertaqwa.

5. Segera bertaubat

Karakter kelima dari orang bertaqwa adalah segera ingat Allah dan bertaubat kepada-Nya ketika melakukan dosa dan kemaksiatan.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 135)

Tidak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa kecuali Rasulullah yang ma’shum. Setiap orang bisa salah, setiap orang bisa terperosok ke dalam dosa, setiap orang bisa berbuat maksiat. Yang paling penting adalah segera bertaubat; ingat Allah, memohon ampun kepadaNya dan tidak mengulanginya lagi.

What is taqwa? Scholars usually define it as short but complete. Taqwa is carrying out Allah’s commandments and avoiding all His prohibitions.

Allah Subhanahu wa Ta’ala explains the character of a pious person in many verses of the Qur’an. Among them are in Surah Ali Imran verses 133-135. This series of verses explains the five characteristics of a pious person. We can think about whether these five characters exist within us, as well as being a measuring tool for the success of our Ramadan fasting. Allah Subhanahu wa Ta’ala says:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“And hasten to forgiveness from your Lord and to paradise as wide as the heavens and the earth which is prepared for those who are pious, (namely) those who spend (their wealth), both in free and narrow times, and those who restrain their anger and forgive (mistakes) of people. Allah loves those who do good deeds. And (also) those who, when they do an abominable deed or wrong themselves, remember Allah and seek forgiveness for their sins; and who can forgive sins but Allah? And they do not continue their abominable deeds while they know”. (QS. Ali Imran: 133-135)

1. Likes to give charity

The first characteristic of a pious person is that he likes to give charity, both in times of ease and hardship.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

(namely) those who spend (their wealth), both in times of ease and hardship … (QS. Ali Imran: 134)

The month of Ramadan, which has another name, syahrul infaq, has trained us to give charity a lot. The Messenger of Allah also gave an example, he who was very generous became even more generous in the month of Ramadan.

The charity and alms that have been trained in the month of Ramadan, should become our character because that is the character of a pious person; giving charity both in times of ease and hardship. Donate whether you are rich or poor. Donate on both young and old dates. Of course the amount is adjusted to your abilities.

The companions of the Prophet, may Allah be pleased with him, have set an example of a love of giving in all circumstances. When the Prophet sallallaahu ‘alaihi wasallam announced the Tabuk War, and at that time conditions were famine, the companions flocked to donate.

Umar Al Faruq radhiyallahu ‘anhu came bringing a lot of wealth. He spent his wealth on jihad fi sabilillah, namely the Tabuk War. When asked by the Prophet, “What do you leave for your family?” Umar answered, “I gave away half of my wealth and my family still has half of my wealth.”

After that came Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. He spent more wealth than Umar. “O Messenger of Allah, I will give away all my wealth.” When asked by the Prophet, what he left for his family, Abu Bakr replied, “I left for them, Allah and His Messenger.”

Umar, who initially wanted to surpass Abu Bakr’s deeds, realized at that time, “I can never surpass Abu Bakr.”

In addition to Abu Bakr and Umar, other companions also flocked to give alms. There were also companions who, due to economic limitations, only gave a handful of dates.

Hypocrites mocked, “Allah does not need such a small amount of alms.” However, the Prophet praised the companions who gave alms even though it was only a handful of dates because their ability was only that much.

And there is no story of Umar becoming poor after donating half of his wealth. There is also no story of Abu Bakr going bankrupt after donating all his wealth. What happened was that their wealth later increased and became more blessed. Just like the Prophet’s words:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Alms giving does not reduce wealth. (HR. Muslim)

So, let us have this character of a pious person. Don’t wait until you are rich to give alms, give alms! God willing, Allah will make us rich.

2. Hold back anger

The second characteristic of a pious person is to hold back anger and be able to manage emotions.

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

… and those who restrain their anger … (QS. Ali Imran: 134)

Ramadan fasting has taught us to be able to manage our emotions well. Ramadan fasting has taught us to be patient, restrained and not get angry easily. In fact, even if there are people who provoke us or invite us to fight.

Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam said:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ

Fasting is a shield, so whoever is fasting should not say evil and curse. If someone insults or invites him to fight, he should say: I am fasting. (Muttafaq ‘alaih)

Anger often makes people lose their minds, uncontrolled words, unwise decisions and uncontrolled emotions. Fasting in Ramadan has trained us to be able to control anger and that should continue to be our character.

Medically, many diseases arise due to being triggered by anger. Starting from high blood pressure, cholesterol, to diabetes. Because anger triggers the hormone cortisol.

The Prophet said that people who are able to manage their emotions, are able to control anger, those are the people who are truly strong.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

A strong person is not someone who (wins in) wrestling, but a (real) strong person is one who is able to control himself when he is angry.(HR. Bukhari and Muslim)

  1. Forgive people

The third characteristic of a pious person is that they like to forgive.

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

… and forgive people … (QS. Ali Imran: 134)

Not only able to control anger, pious people are also good at forgiving other people’s mistakes. And forgiving will not lower a person’s self-esteem, it actually increases their nobility. As the Prophet sallallaahu ‘alaihi wasallam said:

وما زادَ اللهُ عبدًا بعفوٍ إلاّ عزًا

Allah does not add to a servant the quality of forgiveness but will further glorify him. (HR. Muslim)

Forgiving also makes the heart broad, full of peace and easy to be happy. On the other hand, not forgiving or holding a grudge will trigger the hormone cortisol which causes various diseases including heart disease, cancer and stroke.

  1. Likes to do good

The fourth characteristic of a pious person is that they like to do good; he became a muhsinin.

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

And Allah loves those who do good (QS. Ali Imran: 134)

Shaikh Wahbah Az Zuhaili explains in Tafsir Al Munir that a muhsinin is a person who repays evil with good.

People criticize us, we don’t get angry, instead we forgive them and connect with them. This is an example of muhsinin. There are people who hurt us, we actually forgive and help them when they need it, also an example of the Muhsinin.

Ramadan has taught us to do good to everyone. And we should continue that character throughout the year because that is the character of a pious person.

  1. Immediately repent

The fifth character of a pious person is to immediately remember Allah and repent to Him when committing sins and disobedience.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُو

And (also) those who, when they commit heinous deeds or wrong themselves, they remember Allah, then ask forgiveness for their sins and who else can forgive sins except Allah? And they did not continue their heinous deeds, even though they knew.(QS. Ali Imran: 135)

No human being is free from mistakes and sins except the Messenger of Allah who is ma’shum. Everyone can make mistakes, everyone can fall into sin, everyone can commit sins. The most important thing is to repent immediately; Remember Allah, ask Him for forgiveness and don’t do it again.

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

7 Komentar

Сайт для женщин https://modam.com.ua о жизни без перегруза: здоровье и красота, отношения и семья, карьера и деньги, дом и путешествия. Экспертные статьи, гайды, чек-листы и подборки — только полезное и применимое.

Всё про технику https://webstore.com.ua и технологии: обзоры гаджетов, тесты, сравнения, ИИ и софт, фото/видео, умный дом, авто-тех, безопасность. Пошаговые гайды, лайфхаки, подбор комплектующих и лучшие приложения. Понятно, актуально, без лишней воды.

Нужен интернет? интернет для офиса провайдер 2BTelecom предоставляет качественный и оптоволоконный интернет для юридических лиц в городе Алматы и Казахстане. Используя свою разветвленную сеть, мы можем предоставлять свои услуги в любой офис города Алматы и так же оказать полный комплекс услуг связи.

Купить квартиру https://kvartiratltpro.ru без переплат и нервов: новостройки и вторичка, студии и семейные планировки, помощь в ипотеке, полное сопровождение сделки до ключей. Подбор вариантов под ваш бюджет и район, прозрачные условия и юридическая проверка.

Tinggalkan Komentar

Flag Counter