Visi Madrasah
Rabu, 21 Jan 2026
  • Membetuk Generasi yang memiliki karakter Spiritual (Agamis), Mandiri & berprestasi, Adaptif terhadap teknologi, Ramah anak, dan Tanggap terhadap lingkungan.
  • Membetuk Generasi yang memiliki karakter Spiritual (Agamis), Mandiri & berprestasi, Adaptif terhadap teknologi, Ramah anak, dan Tanggap terhadap lingkungan.
1 Februari 2025

Adab sang Pencari Ilmu 1

Sab, 1 Februari 2025 Dibaca 169x

By Mamat

Syeikh az-Zarnujiy, dalam pengantar kitab ta’lim al-muta’allim, menjelaskan bahwa banyak pelajar yang bersungguh-sungguh dalam belajar, namun tidak mendapatkan buahnya ilmu. Apakah buah ilmu itu? buah ilmu adalah “mengamalkan ilmu” dan “menyebarluaskan ilmu”. Menurut penelitian beliau, hal tersebut terjadi karena para pelajar itu salah cara dalam menuntut ilmu dan mereka juga meninggalkan syarat-syarat dalam belajar. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya mengajak Anda untuk berdiskusi tentang cara-cara mencari ilmu atau dalam istilah lain disebut sebagai adab belajar.

Seberapa pentingkah adab itu?

Ibnu Mubarok berkata, “Barangsiapa yang meremehkan adab-adab, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari sunnah-sunnah. Barangsiapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari  fardhu-fardhu.  Dan barangsiapa yang meremehkan  fardhu-fardhu, maka  ia akan dihukum dengan terhalang dari ma’rifat (mengenal Allah)”.

Imam Syafii, imam mazhab yang banyak menjadi panutan kaum Muslim di Indonesia, pernah ditanya, bagaimana upayanya dalam meraih adab? Sang Imam menjawab, bahwa ia selalu mengejar adab laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.

Begitulah pentingnya adab dalam belajar.

Saudaraku yang berbahagia, agar sukses dalam belajar, hendaknya kita mengamalkan adab-adab dalam belajar, yaitu niat mencari ilmu untuk memperoleh ridlo dari Alloh ta’ala, berdoa, mempunyai cita-cita yang tinggi, bersungguh-sungguh, istiqomah, menjahui kemaksiatan, tidak malu dan tidak sombong, mengamalkan dan menyebarluaskan.

  1. Niat mencari ilmu untuk memperoleh ridlo dari Alloh ta’ala

Kita semestinya menuntut ilmu dengan niat untuk mendapatkan ridlo dari Alloh ta’ala. Kita belajar dengan tujuan agar hilanglah kebodohan dari diri kita, agar kita mengetahui yang benar dan yang salah, yang manfaat dan yang mudlorot, agar kita bisa menghidup-hidupkan agama Islam ini, agar kita semakin dekat kepada Alloh ta’ala dan semakin bermanfaat kepada sesama manusia.

Perhatikan pesan Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam berikut:

 إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Arti Hadits:

Sesungguhnya setiap  perbuatantergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (H.R. Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Jadi kalau tujuan kita belajar adalah untuk mendapatkan ridlo Alloh ta’ala, niscaya kita ‘kan mendapatkannya. Jika Alloh ta’ala ridlo kepada kita, sudah tentu kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhiratlah yang akan kita peroleh. Adakah yang lebih baik dari hal ini? Sebaliknya, jika tujuan kita menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan kemuliaan di dunia, misalnya harta benda dan kekuasaan, maka itulah yang akan kita dapatkan.

Perhatikan juga peringatan dari Nabi kita tercinta…

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, mempermainkan diri orang-orang bodoh dan dengan itu wajah orang-orang berpaling kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam. “ (HR. Ibn Majjah dari sahabat Abu Hurairah(

Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.” 

  • Berdoa

Doa adalah ungkapan bahwa kita butuh kepada Alloh ta’ala. Dan memang begitulah adanya. Sungguh kita sangat butuh kepada Alloh ta’ala. Selain itu, doa adalah senjata orang-orang yang beriman. Bukankah jika Alloh ta’ala berkehendak, semua hal bisa saja terwujud?

Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam mengajarkan doa bagi para pencari ilmu. Bacalah, resapi maknanya, hafalkan, dan amalkan setiap hari..!!

اللهُمَّ إنِّـيْ أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعـاً ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَايَنْفَـعُ             

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan Aku berlindung kepada Engkau dari (mendapatkan) ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Al-Nasa’i dari sahabat Jabir bin Abdillah ra)

Selain doa tersebut, masih banyak doa-doa belajar yang lain. Silahkan mencari, menghafal, memahami, dan mengamalkan.

  • Mempunyai cita-cita yang tinggi

Kita hendaklah memiliki cita-cita yang tinggi dalam belajar. Contoh, “aku ingin menghafal juz 30 dari al-Quran sekaligus terjemahannya dalam waktu 3 bulan”. Dengan memiliki cita-cita yang luhur seperti ini, kita akan bersemangat dalam belajar.

“bercita-citalah setinggi langit, kalaupun jatuh, engkau ‘kan jatuh di antara bintang-bintang” (anonym)

  • Bersungguh-sungguh

Ini adalah sebuah keharusan. Kita musti bersungguh-sungguh dalam belajar. Karena dengan bersungguh-sungguhlah kesuksesan itu dapat dicapai. Bagi para pemalas, hanya sesal dan hinalah yang ‘kan didapat.

Ingatkan pepatah Arab yang sangat masyhur..?? MAN JADDA WA JADA.

“siapa yang bersungguh-sungguh, niscaya dia ‘kan (berhasil) mendapatkan (apa yang dicita-citakannya)”

  • Istiqomah

Belajar adalah kebutuhan dasar manusia. Dengan belajar manusia bisa meningkatkan kualitas dirinya, menyelesaikan permasalahan hidupnya, dan menciptakan karya-karya yang bermanfaat. Oleh karena itu belajar harus dilakukan secara terus menerus, berkesinambungan, dan berkelanjutan.

Ada dikatakan;

“seseorang itu dikatakan pintar, selama ia mau belajar

Jika seseorang berhenti belajar, karena merasa sudah pintar, mulailah ia bodoh…”

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Flag Counter